Skip to main content
Adang

Adang Prianto, The Best Student di Monash University

Tahun 2015 telah menjadi salah satu tahun yang paling berkesan sepanjang hidup seorang Adang Prianto. Pria yang dilahirkan dan dibesarkan Ponorogo ini mendapatkan tugas istimewa dari PKT (Pupuk Kaltim) untuk menempuh studi pascasarjana di Dept. Electrical and Computer System Engineering, Monash University, Melbourne, Australia. Meski masa studinya terbilang cukup singkat yakni sejak Pebruari 2015 hingga Desember 2015, namun tidak menyurutkan langkahnya untuk memberikan yang terbaik bagi PKT.

Terbukti, dengan ketekunan dan semangatnya yang tinggi, pria 32 tahun yang memulai karirnya di PKT sejak 2008 ini didapuk sebagai The Best Student 2015 oleh kampusnya untuk Unit Instrumentation, Control and Monitoring dengan Reference Prof. Sunita Chauhan (Unit Coordinator - Professor di Dept. Mechanical and Aerospace Engineering). Sebuah prestasi yang membanggakan, tidak hanya untuk Adang pribadi namun juga untuk PKT.

Instrumentation and Control System

Apa yang dipelajari oleh Adang selama sepuluh bulan studi courseworknya di Melbourne? Ternyata, tidak jauh dari pekerjaan rutinnya di Departemen Pemeliharaan Instrumen, yakni studi tentang Instrumentation & Control System, Embedded Real Time System, Wireless Communication System, Engineering Analysis, dan Signal Processing di Jurusan Electrical And Computer System Engineering (ECSE). 

Sebagai mahasiswa studi coursework Adang tidak diwajibkan untuk menyelesaikan thesis, namun di jurusannya seluruh mahasiswa coursework diwajibkan untuk menampilkan small project. Small project ini sudah ditentukan judulnya oleh Profesor yang bertanggung jawab sebagai Unit Coordinator, karena time limit nya cukup singkat, dari penyelesaian projectnya sendiri, demo-nya, dan laporan akhir harus selesai dalam 4 minggu. 

Small project I (1 bulan, di akhir semester 1) merupakan gabungan antara Sistem control dan Embedded System. Adang mendesain dari machine level, Kernel, Operating System, dan aplikasi yang melakukan pengendalian. Dibuat dengan 3 bahasa program, Verilog/ VHDL (High Definition Language), Assembly (Machine Language) dan C++ (High Level Language).

“Manfaat di PKT secara langsung saya kira ada pada sistem kendali kompleks-nya bisa diaplikasikan untuk pengendalian yang rumit. Untuk desain, sebetulnya embedded system ini ada dan selalu dipakai di sistem pengendalian di PKT,” jelas Adang. 

Small project II (1 bulan, di akhir semester 2) merupakan gabungan antara Electronic Design dan Wireless Communication System. Adang membuat desain elektronika untuk dapat melakukan komunikasi frekuensi tinggi. Aplikasinya untuk mendukung komunikasi 3G, 4G, 5G. 

Aktivitas Lain

Masa perkuliahan yang full time membuat Adang harus menghabiskan lebih banyak waktu di kampus dan berkutat dengan kuliah juga projectnya. Adang mengakui tidak memiliki banyak waktu luang untuk aktif berorganisasi. Meski begitu, Adang masih menyempatkan diri untuk bergabung dengan PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia) dan MIIS (Monash Indonesia Islamic Society). Selain bertujuan untuk menjadi wadah berkumpulnya rekan-rekan setanah air, ke dua organisasi ini juga mengemban amanah untuk mempromosikan budaya Indonesia.  

Dalam berbagai event, perwakilan organisasi mengirimkan anggotanya untuk menampilkan berbagai tarian, salah satu yang menjadi favorit di sana adalah Tari Saman dari Aceh. Namun, Adang mengaku selalu menolak ajakan untuk tampil menari. Dengan alasan tidak punya bakat menari, Adang memilih untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang lain salah satunya seperti mendukung program dari Kementrian Pariwisata di Melbourne yang bertajuk “Wonderful Indonesia”, mempromosikan budaya dengan membagi flyer, souvenir, kaos, interview singkat dengan orang non-Indonesia mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia, di jalan-jalan. 

Untuk kegiatan MIIS, kegiatannya lebih banyak pada keagamaan, Adang mengikuti pengajian dan diskusi rutin dengan sesama anggota MIIS. 

Selain berkegiatan dengan kedua organisasi tadi, Adang mengisi waktu luangnya di Minggu sore dengan menggocek bola bersama rekan-rekan sejurusannya yang berasal dari Australia, India, China, Filipina dan Bangladesh. “Karena mahasiswa postgraduate Teknik di ECSE tidak banyak (5 masters dan 11 PhD), keakraban kami sudah seperti keluarga. Kami saling mengunjungi, dan sewaktu mendapat giliran kunjungan, saya meminta tolong istri untuk menyiapkan kuliner khas Indonesia mulai dari gado-gado, sate & gulai kambing, Nasi goreng, dan es cincau. Sampai saat ini kami masih saling kontak untuk saling bertukar informasi,” kata Adang.

Budaya Jujur, Plural dan Liberal di Negeri Barat 

Melbourne, merupakan ibukota sekaligus kota terbesar di Negara Bagian Victoria, Australia. Kota ini merupakan kota terpenting kedua dari segi bisnis sekaligus kota terbesar kedua di Australia setelah Sydney. Dihimpun dari The Economist, Melbourne sudah empat kali mendapatkan predikat "The World's Most Liveable Cities" (kota paling nyaman untuk ditinggali) dari The Economist, yaitu pada 2002 dan 2004. Pada tahun 2011 dan 2012, Melbourne mendapatkan tingkat pertama dari The World's Most Liveable Cities. Daerah metropolis Melbourne juga memiliki jaringan trem listrik terbesar di dunia.

Adang tinggal di Distrik Clayton di pinggiran Melbourne, berjarak sekitar 19 KM ke arah tenggara dari distrik pusat bisnis Melbourne. Dalam sejarahnya, area ini dulunya ditujukan untuk area pertanian. Nama Distrik Clayton sendiri berasal dari nama sebuah properti yakni Clayton Vale milik seorang pengacara bernama John Hughes Clayton di tahun 1860-an. 

Bagi Adang, distrik ini memberikan kesan nyaman dengan penduduk yang ramah. Daerah ini cukup lengang dengan udara yang bersih, jalan-jalan yang luas dengan rasio jumlah kendaraan cukup kecil hampir tidak pernah macet parah, sehingga kalau bepergian kemanapun bisa memperkirakan waktu tempuh. Selain itu angkutan umumnya juga sangat bagus, khas negara maju. Jalan–jalan beserta trotoar di sana juga friendly buat pejalan kaki dan orang cacat. Trotoarnya cukup lapang, bersih, rindang dan kondisinya terawat sehingga banyak yang memilih berjalan kaki menuju tempat aktivitas. Udaranya sejuk dan kering khas negara 4 musim, sehingga berjalan jauh pun tidak akan membuat mandi keringat. Lapangan-lapangan baseball dan playground juga banyak ditemui di sekitar hunian, yang membuatnya menjadi lingkungan yang ramah anak. 

Mengenai kehidupan sosialnya, alumni Teknik Fisika ITS angkatan 2003 mengatakan, “Saya kira bule itu cuek dalam segala hal, ternyata tidak. Mereka cukup ramah, sering mereka menyapa duluan dengan sapaan khas Aussie, “G’Day” walaupun kita nggak kenal sama mereka. Mereka care dengan anak kecil. Pernah suatu saat kami diingatkan orang saat belanja karena anak kami parkir dengan strollernya yang hanya berjarak 3 meter dari kami yang menurut kami cukup aman dan tidak masalah. Ternyata Ibu tersebut tanpa kami minta dan tanpa sepengetahuan kami menunggui anak kami sampai kami selesai. Setelah itu mengatakan, “Bagaimana jika saya orang jahat yang membawa kabur anak kamu, bla bla bla…” Kami hanya bisa tersenyum sambil berkata, Sorry dan Thank You.”

Namun begitu, hal yang paling membuat Adang terkesan adalah budaya jujur yang dipegang teguh oleh penduduknya. Terkait dengan hal ini Adang mengangkat contoh dari observasi setiap hari di lingkungan kampusnya. Adang mengungkapkan bahwa baginya ilmu bisa dipelajari di mana saja. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, bukan hal yang sulit untuk mencari pengetahuan yang selevel dengan orang asing yang tinggal di belahan bumi lain. Namun, proses yang kita jalani untuk meraih pengetahuan itu yang menjadikannya berbeda. Adang mengisahkan betapa kita dan mereka memiliki definisi yang berbeda tentang kejujuran dan rasa malu. Bagi kita, tidak lulus mata kuliah tertentu merupakan suatu aib dan kegagalan yang harus disembunyikan. Sehingga kita seolah didorong untuk menggunakan segala cara untuk bisa lulus, meski dengan berbuat curang sekalipun. Namun tidak demikian bagi mereka, Failed (tidak lulus mata kuliah) dengan hasil usaha sendiri bukanlah hal yang memalukan. Hal yang memalukan adalah jika mereka mampu lulus mata kuliah tersebut dengan kecurangan. Dalam observasinya, Adang melihat  mereka pun menerapkan prinsip yang sama dalam kehidupan mereka sehari-hari. 

Dan yang membuat Adang lebih terkesan lagi adalah bahwa budaya jujur ini terinternalisasi begitu baik hingga masuk dalam sendi-sendi sistem akademik di kampusnya. Ungkapnya, semua materi dan assesment (quiz, assignment/ tugas, dsb) diinformasikan dan dikumpulkan kembali secara online dengan disertai due-datenya (tanggal akhir pengumpulannya). Dalam proses penyelesaiannya, setiap mahasiswa mengerjakan sendiri berdasarkan kemampuan masing-masing. Tidak terlihat atau terdengar adanya kegiatan atau kesepakatan tidak jujur seperti mencontek milik teman, mengerjakan bersama, atau mengambil ide dan inisiatif orang lain. Dengan demikian, lulus atau tidak lulus dari mata kuliah tersebut benar-benar memberi feedback atas hasil kerja dan hasil belajar mahasiswa selama masa studinya. Bagi Adang pribadi, sistem ini memberikan rasa percaya diri hingga ia merasa pantas mendapatkan semua feedback dan penghargaan yang ia raih setelah bekerja keras. 

Dukungan Keluarga 

Di Aussie- Melbourne, menurut Adang, mencari akomodasi hampir sama sulitnya dengan mencari kampus dalam sudut pandang orang biasa dengan kantong pas-pasan. Untuk menyewa property seperti apartemen, unit, flat, atau rumah, kita harus menyiapkan beberapa dokumen (fotocopy paspor, visa, buku tabungan, driver license, dan scholarship letter). Agen akan mereview dan seminggu kemudian akan dihubungi untuk memberitahukan aplikasinya diterima atau ditolak. Belum lagi unit yang strategis sangat terbatas.

Akhirnya Adang memutuskan untuk “ngekos” dulu di kontrakannya mahasiswa Indonesia yang sudah lebih dulu di sana, dengan konsekuensi harus menerima apa adanya kondisi property tersebut. Informasi ini didapat di milis yahoogroup “indomelb”, milisnya orang-orang Indonesia yang ada di Melbourne. Hari pertama di Melbourne Adang sedikit shock dengan kondisi kos-kosan, beberapa bagian ada yang rusak, dan bau, sehingga ingin secepatnya pindah. Setelah mengenal lingkungan, sebelum habis masa kontrak 1 bulan, Adang pindah ke tempat baru yang lebih layak. 

Terkait penyesuaian diri di tempat yang baru, dengan culture yang berbeda, Adang mengatasinya dengan bergaul dan mencari teman di komunitas orang Indonesia dulu. Pada awal semester biasanya PPIA dan MIIS mengadakan acara sambut mahasiswa dan keluarga baru. Di acara ini bisa mencari teman baru sehingga perasaan asing akan hilang. 

Budaya sehari-hari di kampus juga berbeda. Contohnya kita sudah terbiasa memanggil dosen atau professor dengan sapaan hormat Pak atau Bu. “Pada awalnya itu juga saya pakai untuk menyapa dosen-dosen, tetapi ternyata mereka malah merasa tidak nyaman dan meminta memanggil mereka dengan nama depan saja. Wow agak terkejut juga, tapi lama kelamaan saya menjadi terbiasa,” cerita Adang dengan semangatnya.

Lebih lanjut Adang menambahkan, “Yang paling menantang adalah penyesuaian financial. Saya harus survive karena standar living cost di Clayton-Melbourne saat itu hampir 2 kali lipat dari bantuan living cost PKT. Yang terlintas di pikiran adalah penghematan. Setelah dikalkulasi ulang, penghematan tingkat dewa-pun belum bisa menutup kekurangan. Tapi saya tidak boleh komplain pada siapapun, kesempatan belajar ini adalah berkah dan kesempatan luar biasa yang mungkin tidak akan datang dua kali, sehingga saya harus mencari solusi”.

Di Melbourne banyak kesempatan kerja part time, tetapi dengan load study yang tinggi, hampir tidak mungkin punya waktu untuk bekerja paruh waktu. Adang mendapat ide untuk mengurangi spending, dengan menyewa rumah besar dengan harapan ada yang mau bergabung tinggal. Setelah dipromosikan di kalangan mahasiswa Indonesia, kurang dari 2 minggu sudah ada dua mahasiswi yang tertarik bergabung. Dengan cara ini Adang mengurangi pengeluaran untuk tempat tinggal hingga 60%. Selain itu, dipilih lokasi property yang strategis, dekat dengan tempat tujuan aktivitas, antara lain kampus, pasar, playground, dsb sehingga bisa menekan biaya transport hingga 90%. Dengan cara ini, Adang bisa survive mencukupi kebutuhan living cost dan bisa focus menyelesaikan study.

Harapan untuk PKT

Berkaitan dengan Program Tugas Belajar, pria yang saat ini bertugas sebagai Spesialis Instrumen ini berharap PKT memiliki road map yang jelas terutama mengenai bagaimana memanfaatkan hasil dari tugas belajar itu sendiri. Mengingat PKT sudah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk membiayai seluruh kebutuhan perkuliahan, maka sudah sepantasnya ada cara atau program untuk mendapatkan return yang sesuai. (Ratna/sb)

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.