Skip to main content
Fariz

Muhamad Fariz Failaka, Process System Engineer PT Pupuk Kaltim

Email dari Sang Profesor

Setelah lima tahun bekerja sejak tanggal 11 November 2008, Muhamad Fariz Failaka (biasa disapa Fariz) berkesempatan untuk mengikuti seleksi Program Tugas Belajar. Saat itu, Fariz bekerja sebagai Staf PE NPK  di Departemen Proses dan Pengendalian Energi (PPE). Waktu cepat berlalu, 30 Juli 2015 Fariz berhasil menyelesaikan Tugas Belajarnya lebih cepat dari yang direncanakan, kemudian kembali mengabdi kepada PKT sebagai Superintendent PPE Urea. Setelah sebelumnya dipercayai sebagai Superintendent PPE NPK. Banyak kisah menarik yang diutarakan pria 30 tahun ini. Kisahnya diurai, agar dapat menjadi bekal pengalaman bagi Karyawan lain yang akan melanjutkan studi terutama di luar negeri.

Tak pernah terpikirkan olehnya akan menempuh studi di negeri orang. Cita-citanya saat seleksi Tugas Belajar dulu adalah ingin menimba ilmu di salah satu kampus terbaik di Indonesia. Namun ternyata takdir membawanya menuntut ilmu kepada seorang Profesor yang disegani dalam dunia Process System Engineering (PSE), yakni Prof Ali Elkamel dari University of Waterloo Canada.

Masih teringat olehnya ketika harus membuat proposal untuk dikirimkan kepada Sang Profesor. Seluruh mahasiswa riset pasti paham betapa pentingnya proposal ini. Umumnya Para Profesor akan menjawab dalam hitungan bulan, karena tidak terhitung jumlah proposal yang mereka terima dalam sehari dari seluruh penjuru dunia. Proposal yang meyakinkan adalah yang mereka cari. Untuk itu, ujar Fariz, sangat penting untuk bisa menyampaikan maksud kita tanpa harus bertele-tele. Cukup membuatnya dalam bentuk tulisan singkat tapi meyakinkan. “Itu poin utamanya”, ujar pria lulusan SMA Taruna Nusantara dan Teknik Kimia ITS ini.

Setelah melakukan riset cukup panjang, kemudian Fariz mencoba menuangkan isi kepalanya ke dalam tulisan. Setelah dibaca, direview dan direvisi berulang kali, akhirnya Fariz memberanikan diri untuk mengirimkan proposal itu. “Saat itu posisi saya sedang di Jepang, mengikuti Training Tim Proyek Kaltim 5. Dengan perbedaan waktu antara Jepang dan Kanada, saya harus bisa memperkirakan waktu yang tepat untuk mengirimkan proposal itu.  Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, faktor waktu juga penting untuk diperhatikan. Saya putuskan mengirimkan proposal tersebut saat malam hari waktu Jepang, artinya pagi waktu Kanada.  Malam itu saya menduga Profesor mungkin akan menjawabnya 3 (tiga) bulan lagi. Tak berharap banyak, saya beranjak tidur” ungkap ayah dari Hafizhah Azzahra Failaka dan M. Farzan Arkaansyah Failaka ini.  

“Paginya menjelang mengikuti rangkaian training, saya membuka email. Ada satu email yang sangat menarik perhatian saya. Email dari Sang Profesor. Tak berharap lebih, saya mengira beliau mungkin menolak saya atau masih mau menanyakan hal-hal tentang saya dan proposal riset saya. Tak disangka, beliau menerima saya saat itu juga dan langsung akan memproses Letter of Acceptance (LOA). Saya baca email itu berulang kali sebelum akhirnya saya kabarkan berita baik ini kepada Panitia Program Tugas Belajar. Alhamdulillah, artinya siang itu waktu Kanada, Profesor langsung menjawab email saya dan menerima saya sebagai mahasiswanya”

Terbang Melintasi Separuh Dunia.. O Canada..

Selang beberapa bulan, University of Waterloo mengirimkan Letter of Acceptance (LOA), tepatnya pada tanggal 8 Agustus 2013. Masih melekat di ingatan Fariz, LOA diterima persis di hari pertama Syawal. Ya, persis di Hari Raya Idul Fitri Tahun 2013. “Mungkin ini barokah Romadhon” ujarnya. Tertera di surat itu, awal musim gugur yakni Bulan September Fariz sudah harus di Kanada untuk mengikuti perkuliahan. Waktu yang sempit, sementara proses yang harus dilalui masih cukup panjang untuk mengurus segala keperluan terkait keberangkatan baik keperluan di kantor maupun keperluan imigrasi.

“Atas bantuan rekan-rekan di Dept. Bangrir, Dept. Diklat, Dept. KHI dan Kantor Perwakilan Jakarta serta rekan-rekan lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, akhirnya semua keperluan dapat selesai dengan baik pada waktunya. Saya sangat berterima kasih atas segala kebaikan dan kerja sama dari semua pihak hingga saya bisa menyelesaikan urusan Surat Perjanjian, Study Permit, urusan keberangkatan serta urusan lainnya dengan begitu lancar. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih”, ujar Fariz.

Proses mendapatkan study permit  dari Kedutaan Kanada terbilang tidak sulit. Dengan LOA di tangan, tidak membutuhkan proses panjang hingga akhirnya study permit itu bisa diterima. Bahkan tidak ada proses wawancara.

Sambil menunggu semua proses selesai, Fariz sempatkan untuk melakukan riset kecil-kecilan melalui internet terkait semua hal tentang negara ini. Bagaimana cara mereka hidup, tempat tinggal, biaya hidup, cuaca dan lain sebagainya.

Kanada ternyata dikenal sebagai negeri yang ramah. Amerika Serikat sendiri menjuluki negara ini, Tetangga yang Ramah dari Utara. Urusan toleransi juga dijunjung tinggi. Berangkat dari kesamaan latar belakang sebagai imigran, penduduk Kanada paham bahwa mereka memang bukan penghuni asli negeri dingin ini. Yang membedakan mereka dengan penduduk lainnya hanyalah waktu kedatangan. Ada koloni yang datang lebih dulu di masa peperangan pada abad 14-15 dan ada yang datang di masa modern untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Tidak mengherankan kalau penduduk Kanada menganggap perbedaan adalah kekuatan.

Setelah semua urusan keimigrasian selesai, Fariz berangkat menuju Waterloo dan tiba disana pada tanggal 20 September 2013. Bagi Anda yang pernah/ masih menggunakan Blackberry dan mempercayakan asuransinya kepada Manulife. Nah, kota ini adalah tempat dimana kedua bisnis itu lahir dan berkembang. Ya, Waterloo adalah rumah bagi Blackberry dan Manulife.

Perjalanan menuju Waterloo tidak bisa dibilang singkat. Untuk keberangkatannya, Fariz disiapkan tiket Korean Airline, dengan transit di Bandara Incheon, Seoul, yang merupakan rute tercepat menuju Waterloo. Dari Bontang, diperlukan waktu kurang lebih 2.5 jam menuju Jakarta.  Lalu dibutuhkan waktu 7 jam dari Jakarta ke Seoul, ditambah 14 jam lagi perjalanan menuju Toronto. Perjalanan belum berhenti di situ. Masih ada perjalanan darat lagi selama 2 jam dari Toronto ke Waterloo. Total, dibutuhkan waktu 25.5 jam dari Bontang menuju Waterloo, belum dihitung waktu transit. Perjalanan yang luar biasa panjang. Praktis, Fariz melintasi separuh dunia untuk menuju kampus tempatnya menimba ilmu selama hampir 2 tahun.

Negeri ini adalah negeri terjauh yang pernah dikunjunginya. Tak terbayangkan sebelumnya, ia akan menginjakkan kakinya di benua Amerika. Terima kasih untuk PKT, hal ini jadi bisa terwujud.

Fariz tiba di Canada saat suhu sudah mulai mendingin. September adalah awal bagi musim gugur. Daun-daun maple berganti warna menjadi merah, oranye, kuning dan kecoklatan. Mereka siap menunggu angin, untuk berguguran. Pemandangan yang luar biasa cantik. Daun-daun di pohon berwarna-warni begitu indah. Dengan bule-bule yang hilir mudik dengan trench coat nya yang keren, semakin menambah suasana dramatis seperti di film-film.

Process System Engineering

Awalnya Fariz mengira perkuliahan risetnya akan berjalan tidak mudah. Sebagai mahasiswa riset, Fariz tentu dituntut untuk bisa menghasilkan beberapa project dan tentu saja thesis. Namun, dengan dukungan dari banyak pihak, Fariz mendapatkan keyakinan bahwa ini adalah jalan yang terbaik tidak hanya untuk dirinya pribadi namun lebih dari itu untuk PKT. Melalui berbagai project dan thesis, saat itu Fariz berencana untuk mengangkat permasalahan pabrik dan mencoba mencari penyelesaiannya di bawah supervisi Sang Profesor. Dengan begitu, diharapkan solusi dalam project dan thesis-nya itu dapat diaplikasikan di PKT dan diharapkan memiliki nilai guna yang besar.

Pertemuan pertama dengan Sang Profesor berjalan lancar. Kesan bahwa Profesor itu galak, kaku dan nyeleneh semua lenyap. Prof. Ali Elkamel adalah pribadi yang menyenangkan. “Beliau menerima saya dengan keramahan khas Kanada. Pada pertemuan itu beliau menyampaikan bahwa selama ini mahasiswa risetnya kebanyakan berasal dari ranah akademisi, bukan praktisi. Umumnya mereka adalah dosen di negaranya masing-masing. Sangat sedikit sekali proposal yang berasal dari para praktisi. Itu sebabnya begitu beliau membaca Curriculum Vitae (CV) dan proposal saya, beliau merasa tertantang. Tidak mengherankan, beliau butuh waktu sebentar saja untuk menerima saya” ujar Fariz.

Pada hari yang sama, Fariz diperkenalkan pada ruangan dan rekan kerja barunya. Ruangan ini diisi oleh semua mahasiswa riset Sang Profesor. Ruangan ini tidak terlalu besar, tapi cukup fungsional dan nyaman. Fasilitas utama seperti meja kerja, kursi, rak buku dan perangkat komputer tersedia. Rekan Fariz lainnya berasal dari Malaysia, Qatar dan Kanada. Seperti yang disebutkan Profesor semua adalah akademisi, dan kebetulan ketiganya adalah kandidat PhD.

Hari perkenalan itu persis menandai hari pertamanya di kampus dan sejak itu banyak kisah menarik dimulai.  “Selama perkuliahan, bidang yang saya tekuni adalah Process Systems Engineering (PSE) dengan fokus utama pada optimasi proses melalui mathematical modeling dan mathematical programming,” ujar pria penyuka fotografi ini.  

Thesis yang diangkatnya terkait dengan implementasi PSE di area solid based. Mengangkat permasalahan dedusting system di Pabrik NPK Fusion PKT, judul thesisnya adalah "Superstructure Optimization of Multiple Cyclone Arrangements Using Mixed Integer Nonlinear Programming".  “Melihat permasalahan debu yang tidak dapat terhindarkan pada proses pembentukan Pupuk NPK, maka saya tertarik mempelajari metode optimasi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Termasuk melihatnya dari tiga sudut pandangan penyelesaian yakni optimum solutionenvironmentally friendly, dan minimum cost. Ketiga hal tersebut tercakup dalam bidang PSE,”

Metode optimasi yang dikuasai Fariz adalah Linear Programming, Nonlinear Programming, Mixed Integer Linear Programming, dan Mixed Integer Nonlinear Programming yang dapat diaplikasikan tidak hanya terbatas pada bidang yang diangkat dalam thesisnya saja, namun juga untuk bidang yang lebih luas dari itu. Fariz pernah mendapatkan project dari Sang Profesor saat menjadi Research Associate untuk menyelesaikan studi kasus pada Empty Fruit Bunch (EFB) supply chain problem yang menghasilkan solusi dengan judul "Superstructure Optimization of Biomass Supply Chain".

Selain fokus kepada studinya, Fariz memang memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dengan menjadi Research Associate seperti yang disebutkan di atas. Juga, sebagai Teaching Assistant (TA) untuk mata kuliah Chemical Reaction Engineering. Pada suatu kesempatan bersama rekan-rekannya, Fariz juga sempat mengunjungi Pabrik Shell Canada di kota Sarnia, Ontario, Kanada untuk melakukan diskusi teknis dengan Pihak Operation dan Process Engineer perusahaan besar itu.

“Sebagai duta dari Indonesia saya bangga bisa membuat Prof. Ali Elkamel terkesan dengan memberikan kepercayaan untuk menjadi Teaching Assistant (TA). Bahkan beliau merekomendasikan saya untuk skip program Master menjadi langsung PhD Program. Profesor melalui kampus sempat menyampaikan surat resmi kepada Manajemen PKT terkait maksud tersebut, namun mungkin belum saat yang tepat bagi saya untuk mendapatkan kesempatan tersebut,” jelas Fariz tentang pembimbingnya. Sang Profesor memahami kondisi ini dan berkomitmen akan menerimanya kapanpun Fariz akan melanjutkan studi PhD nya.

Selain mengerjakan thesis dan project-nya sebagai Research Associate, Fariz juga cukup produktif dalam melakukan riset dan mendokumentasikan temuannya dalam bentuk paper.  Per akhir tahun 2016 ini, Fariz sudah mencatatkan namanya di beberapa konferensi dan jurnal internasional.

Sebagai member Industrial Engineering and Operations Management (IEOM) Society sejak tahun 2015, Fariz aktif men-submit paper  dan sekaligus menjadi pembicara pada ajang seminar internasional yang diadakan oleh mereka.

Maret 2016, Fariz mewakili PT Pupuk Kaltim ke ajang The 6th International Conference on Industrial Engineering and Operations Management (IEOM) Kuala Lumpur, Malaysia dengan membawa 3 (tiga) paper-nya yakni Superstucture Optimization of Multiple Gas-Solid Cyclone Arrangements, Stochastic Dynamic Optimization of Engineering Processes dan Sensitivity Analysis in Optimization of Cyclone Arrangements. Publisher ketiga paper tersebut adalah IEEE Xplore Journal.

Pada ajang tersebut, Fariz juga diundang untuk menjadi salah satu kandidat thesis terbaik dalam kompetisi Graduate Student Paper Competition yang disponsori oleh EATON Corporation untuk thesisnya "Superstructure Optimization of Multiple Cyclone Arrangements Using Mixed Integer Nonlinear Programming"Dan tak disangka, Fariz dianugerahi Second Place atau Juara Kedua untuk thesisnya tersebut, mengalahkan thesis bergengsi lainnya dari berbagai negara di dunia. Fariz menjelaskan, “Model yang saya buat untuk Pabrik NPK Fusion tersebut artinya telah diakui oleh Para Juri dan Peserta Konferensi yang datang dari 65 negara dari seluruh dunia,”

Fariz mengakui, di bawah supervisi Sang Profesor, Fariz mendapatkan banyak kepercayaan untuk mengembangkan diri. Sang Profesor juga yang hingga kini terus mengarahkan dan mendorong Fariz untuk terus produktif dalam riset. 

“Saat saya terakhir menghadap beliau adalah setelah semua proses Master selesai, beliau berusaha menahan saya dengan mengatakan akan menahan paspor agar saya tetap melanjutkan studi atau mengajar di Waterloo dan tidak kembali ke Indonesia. Namun, dengan halus saya menolak, dengan mengatakan bahwa saya punya komitmen dengan PKT” kata Fariz. Penawaran dari Sang Profesor tersebut lebih dimaknai sebagai sebuah bentuk dukungan dan apresiasi atas usaha yang telah dilakukannya. Saat ini, sekembalinya ke PKT, Fariz bersyukur dapat bekerja di bawah supervisi atasan yang mendukung dan memberikan arahan bagi pengembangan diri bawahannya dan terutama bagi pencapaian tujuan bersama.

November 2016, Fariz kembali berkesempatan mempresentasikan hasil riset / eskperimen yang dilakukan bersama para rekan di Bagian PPE NPK yakni Nadia Zahrotul Firdausi dan Chairunnisa. Judul paper-nya adalah “NPK Pilot Plant: Innovative Operation and Process Development in NPK Fertilizer Industry” dan dipresentasikan di hadapan audiens pada ajang The 2016 International Seminar on Fundamental and Application of Chemical Engineering, Surabaya, Indonesia. Salah satu sponsor utama dalam ajang tersebut adalah PT Pupuk Indonesia.

Masih pada bulan yang sama, paper-nya berjudul “Utilizing Biomass Feedstock for Renewable Energy Production” juga semestinya dipresentasikan pada ajang The 2016 International Conference of Chemical Engineering and Industrial Biotechnology, Malacca, Malaysia. Namun karena kepentingan pekerjaan, Fariz tidak dapat memenuhi undangan tersebut. Paper ini merupakan kelanjutan dari project yang dilakukan saat masih menjadi Research Associate, hasil kerja bersama beberapa PhD dari University of Waterloo yang merupakan dosen pengajar pada salah satu Universitas di Malaysia.  

Saat ini Fariz sedang menyiapkan paper lainnya, sebuah kerja sama dengan salah seorang karyawan baru di Dept PPE yakni Fildzah Hanifati untuk di-submit ke The 7th International Conference on Industrial Engineering and Operations Management (IEOM) Rabat, Morocco pada Bulan Apil 2017. Dalam ajang tersebut Fariz mengangkat judul “The Effect of Tube Replacement on The Operation of Primary Reformer in Ammonia Plant.”    

Melalui berbagai paper yang dibuatnya, Fariz berharap bahwa dengan ilmu yang didapatnya melalui Program Tugas Belajar dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan dan kejayaan PKT. Di sisi lain, melalui ajang yang diikutinya, Fariz berharap dapat membawa nama PKT agar lebih dikenal lagi di ajang dunia.  “Ini hanya sedikit kontribusi dari saya dalam rangka mencapai PKT Emas 2027. Saya berharap nama PKT semakin dikenal dalam komunitas perekayasaan industrial dan manajemen operasi dunia. PKT semakin berjaya.”

(*fariz/sb)

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.