Skip to main content
Rangga

Rangga Yuda Putra, MBus baru dari University of Queensland

Tak banyak yang tahu kalau salah satu karyawan di Departemen Rendal Pemasaran barusan menyelesaikan MBus nya dari The University of Queensland Australia spesialisasinya bidang Marketing. Mungkin hanya beberapa yang tahu sebatas teman satu angkatan atau di tempatnya bekerja. Rangga baru saja lulus dan kembali ke Indonesia pada 23 Nopember 2015 setelah sekitar 1,5 tahun menyelesaikan pendidikannya. 

Dalam waktu beberapa tahun belakangan ini PKT mempunyai program mengirim karyawannya untuk kuliah di luar negeri. Berbahagialah yang mempunyai kesempatan itu. Rangga adalah salah satunya.

Rangga memilih kuliah The University of Queensland karena masuk dalam universitas top 50 dunia. Sedangkan kenapa Marketing? “Saya ingin mengembangkan ilmu yang sudah saya pelajari waktu S1, yaitu "pengantar marketing" yang merupakan mata kuliah wajib Jurusan Financial Management. Dari  situ saya tertarik dengan ilmu tersebut. Marketing itu tidak hanya cukup bermodalkan "pintar berbicara dan mental yang kuat", namun pengetahuan dan strategi yang tepat untuk memasarkan sesuatu atau produk itu penting. Jadi, ketika ada kesempatan kuliah S2 tanpa ragu saya milih marketing” kata pria berpostur gempal yang murah senyum ini.

Model kuliahnya Rangga memilih coursework dan tak ada skripsinya. Tapi, tugas dan paper yang harus dibuat banyak sekali, kadang satu mata kuliah bisa ada 2 (dua) paper dengan syarat minimum 5000 kalimat dan harus diselesaikan sebelum ujian akhir semester.
Sebagai mahasiswa asing tentunya Rangga ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin supaya mendapat pengalaman banyak selama di Australia. “Ada banyak kegiatan yang saya ikuti, selain membantu panitia lembaga mahasiswa UQISA, himpunan mahasiswa Indonesia di The University of Queensland, saya juga mengikuti kegiatan fotografi yang sudah menjadi hobi saya selama ini,” kata Kepala Seksi Pelaporan ini. Untuk kegiatan akademisnya, Rangga mengikuti kegiatan seperti seminar pendidikan gratis di kampus yang suka mengudang narasumber terkenal serta membantu dosen dan teman di fakultas untuk ikut kegiatan riset pemasaran/magang.

“Saat awal kuliah, kebiasaan saya adalah mendengarkan dengan baik dosen di depan kelas dan duduk di kursi depan. Ada perbedaan aksen bahasa Inggris orang Australia dan pola bicara mereka yang sangat cepat”. Masih menurut Rangga, “Semua mata kuliah ada rekamannya baik audio maupun video. Ini sangat membantu saya memperdalam catatan dan note kuliah.”

Rangga lalu bercerita panjang lebar tentang kuliahnya. Mahasiswa fakultas bisnis lebih sering diajak berdiskusi dan menerapkan hasil pembelajarannya dengan terjun ke lapangan dan berhadapan langsung dengan klien sehingga mahasiswa tidak hanya belajar teori tetapi juga mengaplikasikan teori tersebut. Sistem IT di kampus juga sangat baik. Seluruh mahasiswa memiliki dashboard atau web pribadi dimana segala informasi seperti slide dosen, nilai, tugas, dan pengumuman seputar perkuliahan dapat diakses sendiri. Tugas dan paper juga dikumpulkan di sistem IT. Sistem pendidikan di Australia sangat anti dengan plagiarisme, sehingga mereka mengunakan aplikasi database yang dapat mendeteksi tingkat kemiripan tulisan seseorang. Jika ada mahasiswa mengutip laporan dari luar dan mengumpulkan tugas tersebut, maka secara otomatis sistem akan memberitahu bahwa informasi tersebut sudah pernah ada di sistem dan dihitung sebagai plagiarisme dan nilainya tidak akan maksimal.

Berkisah tentang pengalaman unik, suatu saat di universitasnya, ada dosen online advertising yang memberikan peluang bagi mahasiswanya untuk mengikuti kompetisi online marketing yang diselengarakan oleh Google yaitu Google Online Marketing Challenge 2015 (GOMC 2015). Pesertanya dari seluruh dunia. Sebagai peserta ada juga perwakilan dari Universitas Indonesia dan bahkan Universitas Harvard. “Saat itu saya diminta dosen membentuk dan memimpin tim yang akan berpartisipasi pada kompetisi tersebut. Yang mewakili University of Queensland ada delapan tim” kata putra pertama, pasangan Ir. Jusri Minansyah dan Ida Karni.

Kompetisi ini sangat populer di dunia khususnya di Eropa. Para pakar marketing dan agensi pemasaran di dunia berlomba mencari strategi yang tepat untuk membuat barang/jasa mereka muncul di halaman muka Google search engine. Bisa dibilang bahwa pekerjaaan yang dilakukan tim saya saat itu adalah "Search Engine Optimization". Peserta diwajibkan memasarkan produk klien-nya secara online di Google Search Engine dan mengoptimalkan penggunaan tools Google seperti AdSense Google, AdWords Google dan Google Analytics. Klien yang dipilih Rangga cs adalah industri kecil pembuat biskuit yang berdomisili di Brisbane. Periode kompetisi satu bulan, dan pada masa tersebut performa seluruh peserta kompetisi dinilai berdasarkan kualitas report, performa iklan, strategi dan output yang diperoleh klien di akhir kompetisi.  Semua peserta kompetisi berupaya agar produk dan website klien bisa muncul di halaman muka google dan laku dibeli konsumen. “Alhamdulillah, dari $250 AUD budget yang diberikan Google tim saya berhasil mencatat Return On Advertising Spending (ROAS) sebesar $4.53 AUD, artinya setiap satu dollar Australia yang dikeluarkan, klien saya mendapatkan $4.53 AUD,” kata alumni Manajemen UII yang lahir di Samarinda, 11 Mei 1983. Rangga cs mendapat predikat Semifinalis dunia dan langsung dirayakan kemenangannya oleh tim, dosen dan kliennya.

Rangga benar-benar menikmati Australia dengan memahami beragam budaya di dunia. Temannya berasal dari berbagai negara banyak memperkaya cara berkomunikasi dan berbisnis dengan mereka. Tempat kuliahnya di Brisbane sangat bersih, tertib dan rapi. Hampir tak ada kemacetan karena orang yang mempunyai kendaraan pribadi sedikit. Kualitas transportasi umum sangat baik dan rapi, mulai dari bus kota, kereta api dan kapal feri. Orang Australia ramah terhadap pendatang. Mereka sering menyapa duluan. Tetapi bila mereka tidak menyukai sesuatu, mereka tidak ragu untuk menolak secara tegas. Mereka sangat menghormati pendapat orang lain, berbeda itu sudah biasa bagi mereka. Mereka menghormati waktu. Kalau meeting mereka tidak suka berlama-lama membahas sesuatu di meja rapat. Rapat biasanya berlangsung paling lama 1 jam. Waktu bekerja hanya sampai jam 5.00 sore dan berlaku buat hampir semua bisnis yang beroperasi di Australia baik toko pakaian, asuransi, hingga restaurant. Jika beroperasi lebih dari itu biaya operasionalnya mahal, karena undang-undang mengatur bagi karyawan yang bekerja di luar jam kerja normal harus dibayar lebih mahal per jamnya. Jarang sekali menemukan rumah makan yang buka di atas jam 5.00 sore dan kalaupun ada biasanya maksimal jam 7.00 malam. Selebihnya budaya di Australia menghimbau agar lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga dari pada di kantor.

Harapan Rangga yang mulai bekerja 26 April 2008, PKT dapat mewujudkan Visinya yaitu "Menjadi Perusahaan di bidang industri pupuk, kimia dan agribisnis kelas dunia yang tumbuh dan berkelanjutan". Dengan semakin banyaknya karyawan yang disekolahkan perusahaan terutama ke luar negeri maka semakin baik pula kualitas SDM di perusahaan dan dapat membantu perusahaan mencapai visi dan misinya. Perlu adanya moto semangat baru perusahaan selain semangat pioner, yaitu semangat perubahan terutama untuk SDM muda-muda supaya dapat terus eksis dan bersaing dengan perusahaan lain.

Sebagai kepala keluarga, suami Valentine Nuada dan bapak dari Kevia Rava Zhafira dan Zoey Rava Ashadiya, harus dapat membagi waktu bersama keluarga karena saat study Rangga membawa keluarga. “Kadang saya harus menginap di kampus hingga larut malam karena adanya deadline tugas paper, report dan masa-masa mendekati ujian semester,” kata alumni SMA YPK ini. Sebagai salah satu penerima beasiswa dari perusahaan, Rangga merasa punya tanggungjawab terhadap kesempatan tersebut. Hal ini lah yang menjadi pendorong dan motivasi untuk dapat menyelesaikan kuliah sebaik-baiknya dan dengan prestasi yang baik juga. Selamat berkiprah lagi di PKT. (*/SB)

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.